Tampilkan postingan dengan label MER-C. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MER-C. Tampilkan semua postingan

Tokoh Kita: ARIEF RACHMAN, DOKTER SPESIALIS BENCANA

Selasa, 24 Agustus 2010

CikarangNews6: Menolak ditempatkan di rumah sakit mapan dengan gaji besar. Kemampuannya justru semakin terasah jika ia ditugaskan di daerah bencana.
FOTO: DOK. SAHID
Rambutnya gondrong dan terlihat acak-acakan. Celana yang dipakainya sedikit melebihi lutut. Siapa pun tak menyangka kalau dirinya adalah dokter. Termasuk Kepala Dinas Kesehatan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). “Anda ini tidak sabar sekali, ya. Kayak Anda dokternya saja!” hardik Sang kepala dinas kesehatan NAD saat itu.
Kejadian ini dialami Arief Rachman tahun 2005 saat ia bertugas sebagai dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) di wilayah NAD. Arief menyambangi kantor Dinas Kesehatan NAD untuk mendapat surat dispensasi PTT ”cara lain”. Karena tidak dilayani, akhirnya ia langsung menghadap kepala dinas. Namun, bukan sikap ramah yang diterima. Ia malah disemprot oleh Sang kepala dinas.


Sebetulnya Arief ditugaskan oleh Departemen Kesehatan RI menjadi dokter PTT di rumah sakit berpredikat teladan di Sampit, Kalimantan Tengah. Rencananya ia ditugaskan di sana selama dua tahun. Namun ia menolaknya. ”Saya tidak cocok di sini. Sistem dan manajemennya sudah berjalan. Saya tidak dibutuhkan di tempat ini,” ujar Arief kepada pemberi tugas kala itu.


Ia pun mengusulkan agar ditempatkan di NAD yang saat itu baru saja luluh lantak diterjang Tsunami. Kata Arief, pemindahan tempat PTT yang diajukan dokter pemohon biasa disebut PTT ”cara lain”. Arief mendapatkan PTT cara lain di NAD melalui kerjasama dengan lembaga nirlaba Medical Emergency Rescue Committee (MER-C).
Kata Arief, jika saat itu dirinya bersedia ditempatkan di Sampit, tiap bulan dia akan mendapat honor Rp 6 juta dari pemerintah. Namun dengan memilih NAD, kocek Arief hanya terisi Rp 3 juta per bulan dari MER-C.

”Saya tidak betah bila harus duduk manis menunggu pasien di RS yang sudah mapan. Aceh bagi saya lebih menarik, karena apa yang selama ini diperoleh di fakultas kedokteran bisa saya uji-cobakan di Aceh. Saya tak hanya sekadar mengobati pasien, tapi juga bisa membangun sistem dan manajemen RS,” papar alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini.


Spesialis Bencana
Arief memang tidak seperti dokter pada umumnya. Ia bahkan tidak memiliki tempat praktek tetap. Ia beralasan tidak tega bila harus menulis tagihan biaya periksa kesehatan kepada Sang pasien. ”Saya sering tergagap ketika pasien bertanya berapa biayanya,” ujarnya.



Itu sebabnya, Arief lebih senang bertugas di daerah bencana atau daerah konflik. Kata Arief, di lokasi bencana dirinya mendapat kenyamanan, dan hubungan antara dirinya dengan pasien bisa terjaga.
Indonesia, kata Arief, adalah negara seribu satu bencana. Sayangnya, tak banyak dokter spesialis untuk daerah bencana. ”Saya berharap mengisi ceruk yang selama ini tak diminati dokter lainnya,” kata ayah satu anak ini.

Menurutnya, di lokasi bencana kemampuannya benar-benar diuji. Di Aceh, ia pernah menangani pasien yang tengah sekarat. Untuk merujuk pasien ke RS yang lengkap peralatannya tidak mungkin karena jalan terputus akibat gempa.
Di lokasi bencana, jelas Arief, dirinya harus mampu berperan menjadi dokter umum, dokter bedah, hingga menjadi dokter spesialis menanggani persalinan. Ketika tidak ada pilihan lagi, Arief dituntut untuk memberikan yang terbaik bagi sang pasien.


Hal berbeda bila praktek di kota. Katanya, dalam keadaan kritis dengan mudah dokter di kota bisa merujuk pasiennya ke RS lain yang lebih lengkap pelayanannya.”Ketika ada pasien yang saya tidak tahu lagi harus diapakan, atau pasien sudah harus ditangani oleh dokter spesialis, dengan mudahnya saya dapat membuat surat rujukan lalu memberitahukan keluarganya. Maka tanggungjawab saya pun selesai,” jelas Arief.


Lintas Batas
Selain Aceh, Arief juga pernah ditugaskan oleh MER-C ke Ambon, Papua, hingga ke Jalur Gaza, Palestina. Untuk penugasan ke Gaza, Arief sudah melakoninya selama dua kali. Termasuk perjalanan armada kebebasan menuju Gaza, Freedom Flotilla, bersama sebelas relawan Indonesia lainnya yang diserang tentara Zionis Israel akhir Mei 2010 lalu.



Meski demikian, Arief mengaku tidak kapok bila ditugaskan kembali ke Gaza. Peristiwa Mavi Marmara, kata Arief, dianggapnya sebagai ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. ”Ini pembuktian seberapa besar cinta kita kepada Gaza. Masak, baru 24 jam saja kita diperlakukan biadab oleh tentara Israel di atas kapal Mavi Marmara, kita langsung kapok. Padahal, masyarakat Gaza sudah 60 tahun diperlakukan lebih dari itu,” katanya menegaskan.


Saat MER-C menugaskan Arief ke Gaza untuk ketiga kalinya, Arief menerima dengan senang hati. Alhamdulillah, pertengahan Juli 2010 lalu, Arief bersama lima relawan MER-C lainnya berhasil masuk ke Gaza untuk melanjutkan misi membangun rumah sakit Indonesia di sana.


Arief bergabung bersama MER-C sejak tahun 1999. Saat itu, ia masih co ass (praktek lapangan calon dokter) di Yogya. Arief merupakan salah seorang pendiri MER-C Cabang Yogyakarta. Di tahun 2002, Arief bersama MER-C Yogya menangani korban bencana banjir di Jawa Tengah sebanyak enam kali.


Arief merampungkan kuliahnya di Fakultas Kedokteran UGM (2003). Selain bertugas di MER-C, lelaki kelahiran Jakarta 16 April 1978 ini juga pernah menjadi dokter jaga di klinik Labschool Jakarta dan di salah satu klinik rekanan Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia.


Beda Penampilan
Arief Rachman merupakan buah hati dari pasangan Achmad Munandar (55) dan Ami Rachmiyati (52). Kedua orangtuanya asli Jakarta. Ayahnya pegawai kantor pos yang kerap dipindahtugaskan ke berbagai daerah. Itu sebabnya, masa kecil hingga remaja Arief dihabiskan di luar Jakarta.



Ilmu-ilmu keislaman diperolehnya dari madrasah saat ia bermukim di Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain itu, ia memperolehnya saat kuliah di UGM. Ia sempat merasakan atmosfir sistem tarbiyah di Lembaga Dakwah Kampus (LDK).


Arief juga pernah bergabung di Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala). Ia kerap mendaki gunung berhari-hari dengan teman-temannya. Penampilannya pun tak jauh beda dengan aktivis pencinta alam lainnya, berambut gondrong, berkaos oblong plus bercelana buntung. Bahkan, saat ditugaskan ke Gaza untuk pertama kali, ia masih berambut gondrong. Karenanya, masyarakat Gaza memanggil dirinya ”dokter gondrong”.


Namun, sejak menikah dengan Kuntum Khairatifa (30) pada Desember 2005, Arief memotong rapi rambutnya dan menghindari berpenampilan mewah. ”Kalau saya necis, orang sungkan menyuruh saya mengepel. Padahal di lokasi bencana, apa pun harus bisa saya lakukan, termasuk mengepel lantai,” ujarnya berkelakar.

Arief memang dikenal sederhana. Ia tidak ingin hidupnya hanya digunakan untuk mengejar materi. Dalam setahun, ia selalu meluangkan waktu tiga bulan untuk terjun ke daerah bencana.
Sebagai dokter spesialis bencana, penghasilan Arief memang tidak sebesar dokter–dokter umumnya. Tak heran, pilihannya ini sempat ditentang oleh ibunya. ”Kamu ini kan dokter, kok tidak pernah praktek? Lihat tuh temanmu sudah bawa mobil!” ujar Arief menirukan penuturan ibunya.


Menanggapi sang Ibu, Arief mengatakan, ”sekarang ini kaya-miskin seseorang tidak bisa dihitung dari apa yang kelihatan (materi). Ibu semestinya bangga mempunyai anak yang membantu orang tanpa harus dibayar.”
Syukurlah, kini sang Bunda mulai mengerti dan mendukung jalan mulia yang ditempuh putranya. *


Sumber: Bilal Muhammad, Ibnu Syafaat/Suara Hidayatullah, AGUSTUS 2010
READ MORE - Tokoh Kita: ARIEF RACHMAN, DOKTER SPESIALIS BENCANA

Kebaikan Tak Kenal Jera: MER-C Tetap Kirim Bantuan ke Palestina

Jumat, 25 Juni 2010

CikarangNews6:

MER-C Tak Jera Kirim Bantuan ke Palestina


Kapal Mavi Marmara
Padang, (tvOne)
Lembaga kemanusiaan internasional "Medical Emergency Rescue Committe" atau MER-C Indonesia akan terus mengirim bantuan ke Palestina, meskipun terjadi penyerangan oleh tentara Israel terhadap kapal bantuan kemanusian Mavi Marmara beberapa waktu lalu.

"Kejadian itu tidak menyurutkan niat MER-C Indonesia untuk terus mengirimkan bantuan ke Palestina," kata Presidium Mer-C Indonesia dr Joserizal Jurnalis, di Pariaman, Sumatera Barat, Kamis (24/6).

Ia menegaskan, MER-C Indonesia akan terus mengirim bantuan kemanusiaan ke Palestina, walaupun militer Israel melarang. Hal itu disampaikan Joserizal di sela peresmian kembali dua gedung sekolah dasar (SD) yang roboh akibat gempa di Kabupaten Padang Pariaman.

Ia mengatakan, MER-C Indonesia telah merencanakan memberangkatkan kembali bantuan kemanusian ke Palestina pada Agustus 2010. Ditambahkannya, larangan Israel itu tidak menyurutkan langkah tim kemanusiaan internasional, termasuk Mer-C Indonesia untuk masuk ke Palestina.

"Terkait hal itu, MER-C Indonesia sedang menyiapkan satu kapal penumpang untuk mendukung misi kemanusian internasional ke Jalur Gaza yang direncanakan pada Agustus 2010," katanya.

Menurut dia, MER-C akan menempuh berbagai cara untuk bisa masuk ke Gaza, baik melalui darat maupun laut guna memulai program pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di daerah itu. (Ant)
READ MORE - Kebaikan Tak Kenal Jera: MER-C Tetap Kirim Bantuan ke Palestina

Aksi 100 Ribu Massa: Kami Tak Akan Pernah Menyerah

Jumat, 04 Juni 2010

CikarangNews6: Demonstrasi mendukung kemerdekaan Palestina (3/6/2010) benar-benar menjadi momentum baru menggerakkan kesadaran masyarakat atas kebiadaban Zionis Israel. Penyerangan, pembajakan dan pembunuhan atas sukarelawan penumpang kapal Mavi Marmara telah menjadi bukti. Sukarelawan sipil tak bersenjata telah ditembaki tentara bersenjata lengkap saat masih berlayar di perairan Internasional.

Menurut Presidium MER-C Dr. Sarbini Abdul Murad misi Mavi Marmara bukanlah misi gagal. Tapi misi yang tertunda. Tak ada kata menyerah. Karena itu MER-C tetap akan berusaha kembali ke Gaza. Menyampaikan amanat rakyat Indonesia untuk membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina.


Selain itu dalam orasinya Hidayat Nurwahid mendesak Presiden Mesir Hosni Mubarak agar membuka perbatasan Rafah-Gaza selamanya. Bukan hanya pada saat ini saja.

Israel lebih kejam dari pada kisah bajak laut dari Somalia, karena Israel merampas tanah Palestina. Dan kini membajak kapal kemanusiaan beserta bantuan untuk rakyat Gaza yang bernilai milyaran.

"Israel bukanlah korban kekerasan seperti yang diklaimnya selama ini. Tapi Israel adalah biang kerok kekerasan itu sendiri" demikian Hidayat Nurwahid mantan ketua MPR RI yang kini menjabat sebagai Ketua Persatuan Parlemen Asia.


Selanjutnya Hidayat mengatakan, bahwa kalau ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa kecaman, kutukan dan demonstrasi terhadap kekejian Israel tidak ada artinya, maka sesungguhnya kelompok ini telah terperangkap dalam propaganda zionis Israel. Bahkan misi pembebasan kapal Mavi Marmara meski dibajak oleh Israel tetap membawa manfaat. Yaitu membukakan mata dunia tentang kekejian Israel. Dan yang lebih penting adalah menyatukan kembali Fatah dan Hamas di Palestina. Mereka bersatu melawan penjajahan zionis Israel.

Hidayat menyampaikan rasa bangga kepada PM Turki Recep Tayyeb Erdogan atas perjuangannya.
"Jangan mundur. Terus bekerja sama dengan negara-negara lain untuk membebaskan Palestina." teriaknya di depan ratusan ribu massa demonstran. Karena, katanya, kejahatan Israel telah menghancurkan sendi-sendi masyarakat dunia, hukum internasional, menjatuhkan kredibilitas PBB dan perangkat hukum internasional lainnya. (ciknews6/ca)
READ MORE - Aksi 100 Ribu Massa: Kami Tak Akan Pernah Menyerah

Air Mata Untuk Gaza


oleh: Choirul Asyhar

Mendengar
Menyaksikan dan membaca
Ada sebuah negara merdeka
Menderita berkepanjangan
Air mata ini menetes
Tak kuasa hatiku menahannya
Aku hanya bisa menangisi Palestina

Mendengar
Menyaksikan dan membaca
Ada sebuah negara barbar
Hidup bebas di dunia berbudaya
Bebas membunuh, menggusur
Seenaknya menjajah, mengusir dan merampas
Tanah negara merdeka
Air mataku kembali menetes
Tak kuasa menahan geram di dada

Mendengar
Menyaksikan dan membaca
Ada rakyat sipil gigih melawan
Tentara penjajah bersenjata lengkap
Hanya dengan batu, ketapel,
Bom dan senjata rakitan tangan sendiri
Air mataku menitik
Tak kuasa hatiku menahan malu
Apakah aku hanya berpangku
Atau sekedar menulis buku

Mendengar
Menyaksikan dan membaca
Ada sukarelawan dari limapuluh negara
Tujuh ratus jumlahnya menuju Gaza
Lalu diserang tentara barbar itu
Mereka menembaki kapal relawan
demi menenggelamkan kapal
Relawan diculik, disiksa, dilukai
Bahkan dibunuh
Air mataku menetes menahan rindu
Rindu bisa menoreh sejarahku
Hadir di tanah para nabi suatu waktu

Mendengar
Menyaksikan dan mendengar
Ada seorang ayah penuh semangat
Mendukung penuh perjuangan sang anak
Yang kini di Jordan tergeletak karena luka tembak
Meski badan terkoyak
Di dada ada luka tembak
Liver robek
Udara terperangkap di darah
Patah tulang iga
Setelah sembuh silakan kembali ke Gaza

Aku kembali meneteskan air mata
Air mata bangga ketika sang ayah berkata
”Sampaikan salam kami sekeluarga
Kepada anakku Reza di sana
Kami mendukung perjuangannya
Demi rakyat Palestina”

Mendengar
Menyaksikan dan membaca
Ada relawan Amerika
Harus meninggal di usia muda
Dua puluh tiga tahun umurnya
Karena dilindas zionisme buldoser tentara
Saat menghalangi penghancuran
Rumah-rumah keluarga Palestina
Yang tak dikenalnya

Air mataku menetes
Kenapa para pemimpin tak memiliki
Keberanian dan kekuatan hati
Sementara kekuasaan di tangan
Memiliki tentara bersenjata lengkap
Tapi diam seribu bahasa

Mendengar
Menyaksikan dan membaca
Anak-anak di Gaza
Bernyanyi, bermain, bergembira
Di bawah tenda darurat
Disekitar puing-puing rumah mereka

Menggambar bom tank pesawat
Menghiasi mukanya dengan coreng-moreng tentara
Menyelampangi dadanya dengan selongsong peluru
Karena rindu dendam kepada kemerdekaan
Sementara anakku bisa menggambar
Pantai, taman hijau dan langit biru
Menghiasi mukanya dengan topeng jenaka
Dan setiap hari gembira ceria
Dengan tas sekolah menyelempang di dada

Air mataku sedih menitik
Ketika bantuan alat-alat sekolah
Dari kapal pembebasan dirampas tentara Israel
Ketika bahan bangunan
untuk menegakkan kembali rumah-rumah mereka
Dirampok tentara penjajah

Mendengar
Menyaksikan dan membaca
Seperti janjinya ’aku akan kembali’
Rachel Corri yang sendiri dan lemah
Kini benar-benar akan kembali
Gagah, perkasa, berkekuatan
Ke Gaza
Dengan berlipat-lipat kekuatan kemanusiaan
Mewujud sebuah kapal pembebasan

Aku meneteskan lagi air mata
Ada darah Palestinakah mengalir di tubuh Amerikanya?

Mendengar
Menyaksikan dan membaca
Seperti tekadnya ’menyampaikan amanah’
Relawan MER-C tetap berjuang
Mewujudkan tekad
Membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza
Pembajakan penyerbuan penculikan pembunuhan
Tak menyurutkan tekad
Karena Gaza tinggal selangkah

Menetes lagi air mataku tak terbendung
Apakah yang bisa kulakukan
Selain berdoa dan berteriak Allahu Akbar?

[Air mata ini ...
Sejatinya bukanlah untuk Gaza
Karena mereka tak butuh air mata
Mereka butuh semangat dan dukungan
Bukan rengekan melemahkan

Air mata ini..
Sejatinya adalah untuk menangisi diri sendiri
Yang belum banyak berbuat
Selain baru bisa mengecam kedzaliman,
berdoa dan berdemonstrasi keprihatinan].

Cikarang Baru, 21 Jumadil Akhir 1431/4 Juni 2010 



READ MORE - Air Mata Untuk Gaza

WNI Terluka di Gaza Adalah Oktavianto dan Surya Fahrizal

Rabu, 02 Juni 2010


CikarangNews6:Dua Warga Negara Indonesia yang terluka akibat serangan tentara Israel di Jalur Gaza adalah Oktavianto Emil Baharudin dan Surya Fahrizal. Penumpang kapal Mavi Narmada itu harus tinggal selama sepekan di Rumah Sakit di Derserba, perbatasan Gaza dan Israel. " Keduanya terkena luka tembak dan sudah dioperasi" kata Presidium Medical Emergency Rescue Committee (Mer-C) Sarbini Abdul Murad, Rabu (2/6).

Oktavianto Emil adalah anggota Komite Indonesia Untuk Solidaritas Palestina. Adapun Surya Fahrizal adalah jurnalis dari Sahabat Al Aqsha. Sebanyak 10 warga Indonesia lainnya, menurut Sarbini, menunggu keputusan Israel untuk dipulangkan. "Mereka belum sampai Amman, Yordania," kata Sarbini.

Adapun 12 nama WNI yang ikut armada kebebasan Flotilla di Kapal Mavi Marmara adalah:

Dari Sahabat Al Aqsha bekerja sama dengan Hidayatullah:
1. Wisnu Dzikrullah Pramudya
2. Surya Fahrizal
3. Santi Soekanto

Dari relawan MER-C:
1. Nur Fitri Moeslim Taher (Ketua Tim)
2. dr Arief Rachman
3. Abdillah Onim (Logistik dan Penerjemah)
4. Nur Ikhwan Abadi (Insinyur)
5. Muhammad Yasin (Jurnalis TV One)

sumber : tempointeraktif

READ MORE - WNI Terluka di Gaza Adalah Oktavianto dan Surya Fahrizal